Beranda DAERAH Kabupaten Kotawaringin Timur Penyakit TBC di Kalteng Capai 2.933 Kasus, Baru 78 % Ditangani

Penyakit TBC di Kalteng Capai 2.933 Kasus, Baru 78 % Ditangani

Penyakit TBC
Sekteraris Dinas Kesehatan Kotim ALI
Penyakit TBC (tuberculosis) di Kalimantan Tengah masih tinggi. Penyakit ini menjadi perhatian pemerintah. Tercatat hingga November 2022 angka kasus penyakit TBC diwilayah ini sebanyak 2.933 kasus.

Treatment Coverage (TC) penyakit TBC dilaporkan di angka 31 persen, artinya masih dibawah rata-rata nasional yang mencapai 55 persen.

Capaian cakupan perawatan tertinggi penyakit TBC tersebut tercatat di Kabupaten Murung Raya (Mura) dengan treatment coverage sebesar 68 persen.

BACA JUGA   IRP Alias Ipan Diamankan Polsek Mentaya Hulu, Karena Kedapatan Memiliki Sabu

Angka keberhasilan pengobatan di Kalteng pada pertengahan tahun 2022 (pasien pengobatan di tahun 2021) sebesar 78 persen atau masih di bawah target nasional yaitu 90 persen.

Kemudian, pasien Tuberkucosis Resiten Obat (TBC RO) di Kalteng di tahun 2022 ditemukan sebanyak 41 pasien. Namun, yang memasuki tahap pengobatan hanya 34 pasien.

Fasilitas pengobatan TBC RO di Kalteng masih terkonsentrasi di Palangka Raya, Pangkalan Bun, dan Sampit. Untuk fasilitas TCM, tersedia di seluruh fasilitas kesehatan di 14 kabupaten/kota se-Kalteng.

BACA JUGA   Dedi: Pastikan Temuan Bunker Berisi Uang Rp900 M di Rumah Sambo

Sebagaimana yang disampaikan Umar Kaderi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Sekretaris Dinkes Kotim Ali, di Aquarius Boutique Hotel Sampit, Kamis (24/11/2022).

Hal ini disampaikannya dalam kegiatan penguatan kapasitas petugas dan kader dalam pengawasan minuman obat-obatan dan investigasi kontak.

Ali mengatakan, investigasi kontak merupakan suatu intervensi langsung terhadap permasalahan rendahnya angka penemuan TBC di Kalteng yang telah mendapat dukungan dari SR Komunitas Penabulu-STPI yang memiliki kader terlatih.

BACA JUGA   Wanita Cantik Edarkan Sabu 15,52 Gram Berhasil Diamankan Polisi

Mereka terjun langsung ke lapangan untuk memantau sumber penularan dari indeks kasus. Saat ini, lanjutnya, wilayah kerja SR Komunitas Penabulu-STPI hanya terbatas di Palangka Raya dan Sampit.

Namun, investigasi kontak didukung penuh dalam juknis kegiatan melalui DAK nonfisik di puskesmas.

Oleh karena itu, seluruh kabupaten di Kalteng harus melaksanakan investigasi kontak secara komprehensif, baik dengan bantuan komunitas atau swadaya dan pembentukan kader secara mandiri melalui berbagai ragam kegiatan pembinaan di puskesmas, sehingga target penemuan penyakit TBC dan keberhasilan pengobatan pasien TBC dapat dicapai.

BACA JUGA   Pledoi Mawar Tak 1 Pun Dikabulkan, Vonis Hakim Lebih Tinggi dari Tuntutan Jaksa

”Pencapaian indikator utama program TBC di tahun 2022 sudah menunjukkan peningkatan dibanding masa awal pandemi tahun 2020 dan harus lebih baik lagi di tahun 2023. Maka itu, kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat eliminasi TBC tahun 2030 dan Indonesia bisa terbebas dari TBC di tahun 2050,” kata Ali, dikutif dari radarsampit.com.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TBCC tertinggi di dunia, tepatnya ketiga setelah Cina. Sedikit kemajuan dari tahun 2020, yang sebelumnya berada di urutan kedua setelah India.

Berdasarkan Global TBC Report Tahun 2021, diketahui insiden TBCC sebanyak 824.000 kasus serta mortalitas TBCC 34/100.000 penduduk per tahun. Penanganan pandemi Covid-19 memberikan banyak pelajaran bagi pemerintah untuk menangani penyakit berbasis penularan melalui udara.

BACA JUGA   Identitas Sopir Pelat Merah Todongkan Pistol Baru Terungkap

Sehingga setelah pandemi tertangani, TBC merupakan prioritas penyakit menular untuk segera ditangani melalui komitmen eliminasi TBC Indonesia tahun 2030.

Melalui Perpres Nomor 67 tahun 2021, penanggulangan TBC bukan hanya urusan sektor kesehatan, melainkan menjadi tanggung jawab lintas kementerian atau lembaga dan pemerintah daerah.

”Agar cita-cita pemerintah dalam mewujudkan eliminasi TBC 2030 dan Indonesia bebas TBC 2050 dapat tercapai, harus giat melakukan koordinasi dan kerja sama lintas sektor, salah satunya melalui kegiatan penguatan kapasitas petugas dan kader dalam pengawasan minuman obat dan investigasi kontak,” katanya.

BACA JUGA   Tiang Telepon di Jalan Cut Mutia Roboh Akibat Diterpa Angin Kencang

Di sisi lain, lanjutnya, capaian indikator utama program penyakit TBC di tingkat nasional tahun 2022, seperti indikator penemuan dan pengobatan pada TBC sensitive obat (SO) maupun TBC resisten obat (RO) hingga Oktober 2022 masih di angka 45 persen.

”Sesuai arahan Pak Menteri Kesehatan dalam pidatonya sebagai keynote speaker di INA-TIME 2022 di Bali, agar di tahun 2022 target nasional penemuan kasus penyakit TBC setidaknya bisa mencapai angka 75 persen secara nasional dan sudah harus mencapai angka 90 persen di tahun 2023-2024,” katanya.

Maka itu, tambahnya, kegiatan itu diharapkan dapat mewujudkan target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.

”Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan cakupan investigasi kontak, pengetahuan kader, dan pengelola program dalam melaksanakan investigasi kontak dan pengawasan obat-obatan sesuai standard di puskesmas, serta dapat meningkatkan capaian pemberian terapi pencegahan TBC di Kalteng,” pungkasnya.

BACA JUGA   Sejumlah LSM dan Tokoh Masyarakat Datangi Kantor Kejaksaan Negeri Kotim Karena Ini...
Artikulli paraprakKurir Ekspedisi Ditusuk 2 Pria Tak Dikenal, Tas Berhasil Dirampas
Artikulli tjetërMA Berhasil Penjarakan Lagi Bos Narkoba, Publik Pertanyakan Pemeriksaan 3 Hakim