Beranda MIMBAR ISLAM Buya Yahya: Hari Raya Idul Fitri 1443 H, Momen Untuk Berdamai dengan...

Buya Yahya: Hari Raya Idul Fitri 1443 H, Momen Untuk Berdamai dengan Cinta

Buya Yahya
Buya Yahya
Buya Yahya menyampaikan bulan Remadan sudah meninggalkan kita, kali ini tema yang diangkat adalah”Hari Raya Sebagai Momen untuk Berdamai Terhadap Sesama dengan Cinta”.

Inilah pesan penting dari Buya Yahya yang diambil dari Ramadan tahun 1443 H/2 Mei 2022.

Berita ini diambil dan dikutif dari yootube #albahjahtv#buyayahya# dari Metro TV, Senin 2 Mei 2022, di Jakarta, penulis berharap agar bisa menyimaknya apa kata Ustad Buya Yahya berikut ini.

BACA JUGA   Masjid Jami Abdurahim, Masjid Tertua Di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara

Buya 2“Ya memang kalau disebut bulan Syawal dan bulan berdamai dengan sesama. Damai yang sesungguhnya harus berangkat dari hati, hati yang selalu mencintai. Maka Bersama berakhirnya bulan Remadan ini akan memasuki bulan Syawal, Yu kita angkat syiar cinta, syiar mahabbah,” ujar Buya Yahya.

“Kita semua berlomba-lomba untuk bagaimana menumbuhkan kecintaan, problem kita ini hilangnya cinta. Maka sederhana bagaimana tumbuh terus cinta dihati kita, pastikan bahwasannya kita biasa saling mendoakan,” kata Buya Yahya.

“Disaat berpisah, dua orang yang bersahabat yang tidak pernah mendoakan disaat berpisah, dua-duanya adalah pendusta dan berhianat. Yang mendoakan orang disaat tidak ada dihadapannya Malaikan mengatakan ’Wala tabi Muslim’ engkau akan dapat kening sama,” jelas Buya Yahya.

“Maka sudahlah, God buy mendoakan yang jelek,  God buy dengan caci maki, selamat tinggal dengan yang menanamkan kebencian, kita ganti dengan mendoakan kebaikan pastikan,” papar Buya Yahya.

BACA JUGA   Ledakan Kasus Covid-19 di Kalimantan Utara Disorot WHO, Tertinggi di Indonesia

Buya 3“Lebih dahsyat lagi adalah kita harus bisa mendoakan, dengan doa kebaikan mereka yang bermasalah dengan kita. Jangan mengaku anda orang baik kalau anda belum bisa melakukannya,” tegas Buya Yahya.

“Karena ini pangkat tinggi, kalau kita masih berusaha untuk menyuburkan dendam di hati kita jangan mengaku baik.  Jangan merasa baik, karena kuncinya disitu,” jelas Buya lagi.

“Karena bicara Hari Raya adalah silaturrahmi. Nabi menyebutkan, menyambung silaturrahmi itu bukan membalas kebaikan orang yang baik sama kita cuma enteng,” sebutnya.

BACA JUGA   Kasus Covid-19 Makin Menggila, Kemeskes Bongkar Biang Keroknya

Menurut Buya, tapi hakikat menyambung silaturrahmi adalah disaat kita dijahati hak pribadi kita diganggu, kita membalas dengan kebaikan. Kalau kita belum bisa seperti itu belum masuk.

Lanjut Buya, Ramadan berakhir yuk kita ganti, kita Ramadan berdamai dengan Allah bisa kita berdamai dengan manusia, tapi ingat harus dimulai dengan cinta, pastikan kita mendoakan dengan doa kebaikan.

Orang yang baik sama kita, dan orang yang tidak baik sama kita, dan berhenti untuk menndoakan yang jelek kepada siapapun. Pastikan kalau anda bisa itu anda istimewa, anda sudah seperti di surga belum masuk surga.

BACA JUGA   Partisipasi Masyarakat, Kunci Keberhasilan PPKM Darurat

Karena tidak ada dendam. Dendam kita pangkas indah doa, enteng, ringan, tapi berat dalam pengamalannya. Dan ini ada tip-tip bagaimana kita bisa mendoakan orang yang bermasalah dengan kita.

Tip-tip itu menurut Buya Yahya, pertama sadari bahwa sannya Nabi pernah bersabda, kalau kita bisa mendoakan orang lain, disaat orang itu tidak ada dihadapan kita, atau kita bermasalah dengan dia, Malaikat telah mengatakan ’Wala tabi Muslim’ ulama mengatakan sebab dikabul doa.

Makanya kalau doa kita, kalau berdoa jangan umbroh, jangan minta tunggu ulama. Kelamaan belum tentu ketemu, dari diri kita sendiri, cari siapa yang bermasalah dengan saya. Saya akan doakan dengan doa kebaikan sesuai dengan keinginan saya.

BACA JUGA   Aturan Terbaru Penerbangan Domestik Berlaku Sejak 24 Oktober 2021

Ditegaskannya kembali bahwa, doa kebaikan, bukan doa jelek. Pokoknya selamat tinggal kejelekan jangan lain. Setelah itu orang yang hidup di dunia dengan saling mencintai itu indah nanti.

Di dunia indah seperti di surga, di padang mashar indah. Jadi nanti kalau hidupnya sudah memaafkan, di padang mashar akan diperintahkan untuk meluncur ke surga dengan cepat. Makanya disaat kita mendengar kisah itu, kan setelah itu orang yang mendendam itu di ijinkan untuk menuntut.

Tuntut ayam yang zalim lain dikisir untuk menuntut selain mati. Manusia disuruh menuntut. Kalau saya berpikir kalau saya menuntut.

Ditegaskannya pula, Hai kau kenapa kau dulu didunia begini, saya menoleh rombongan tadi orang yang saling mencintai tadi sudah meluncur ke surga, mulai detik itu sudah aku sudah siapapun yang berbuat salah kepadaku masa lalu akan saya maafkan, saya tidak perlu dendam, itu kunci.

Ditambahkannya, Inilah yang perlu kita hadirkan, kita perlu doa, belum tentu kita bertemu kembali, kalau sudah hati tertata nanti pertemuan itu secara otomatis, bahkan sebaliknya jangan bertemu sebentar patah hati.

“Jangan-jangan kalau kita tidak menata hati pertemuan kita itu bisa menambah kedengkian kita, iri kita, permusuhan kita dan seterusnya. Setiap malam kita mendoakan istimewa, Intinya doakan kebaikan,” tambah Buya.

Buya mengimbau, untuk diketahui bahwa silaturrahmi itu ada dua, Johir dan batin. Johir itu kunjung mengunjungi, kalau batin itu saling mengdoakan. Silaturrahmi batin lebih penting dari silaturrahmi Johir. Jadi doanya jangan putus dengan doa kebaikan kepada siapapun.

Kita harus pandai bersilaturrahmi batin menemukan hati, sehingga hinlang benci dan dengki itu sangat penting dan utama.

Pesan Buya, “Ayo kita peduli dengan mendidik anak kita hantarkan kepada kemuliaan, di dunia dan di akhirat,” tutup Buya.

BACA JUGA   Legalisasi “Law As a Tool of Crime” Besar di Penangkapan Wilson Lalengke
Iklan
Artikulli paraprakPidato Gubernur Kalteng Sambutan Hari Besar Islam Idul Fitri 1 Syawal 1443 H/ 2022 M
Artikulli tjetërBanyak PJU Tidak Berfungsi Benar-Benar Dipertanyakan Dewan